Infectious Bovine Keratoconjunctivitis (Pink Eye)

Hai Sobat Ternak… Ayo mengenal salah satu penyakit yang sangat umum dan sering terjadi pada sapi kita. Penyakit ini menyerang mata pada sapi dan sering disebut dengan penyakit pink eye. Nama kerennya adalah Infectious Bovine Keratoconjunctivitis.

Unilateral Pink eye Pada Sapi Bali (Dok. Pribadi)

Infectious Bovine Keratoconjuctivitis atau juga dikenal dengan Pink eye adalah infeksi bakteri pada mata yang menyebabkan peradangan dan pada kasus berat dapat menyebabkan kebutaan sementara atau permanen. Kejadian pinkeye sudah tersebar ke seluruh dunia, tetapi mungkin banyak peternak yang tidak tahu cara terbaik untuk merawat dan meminimalkan penyebaran kejadian satu dalam kawanan. Tingkat kematian akibat kasus ini sangat jarang. Kematian mungkin akibat anoreksia akibat sapi yang merasa tidak nyaman dengan kondisi mata lalu lebih banyak mengalihkan perhatian pada sakit matanya dibanding konsumsi pakan dan air yang cukup. Kondisi anoreksia ini akan menyebabkan system imun tubuh turun dan mendatangkan banyak penyakit sebagai secondary infection. Kadang-kadang, kerusakan pada mata bisa menjadi cukup parah sehingga kebutaan menjadi permanen.

Penyebab utama pink eye adalah infeksi bakteri Moraxella bovis, bakteri Gram negative doble coccus yang menginfeksi mata sapi. Terdapat tujuh strain M. bovis yang telah diidentifikasi di seluruh dunia. Kehadiran bakteri ini biasanya bukan sebagai primer etiologi melainkan secondary infection akibat adanya trauma. Trauma yang ditimbulkan dapat disebabkan oleh debu, infestasi lalat, akibat pakan rumput yang mngiritasi pakan serta radiasi sinar ultraviolet berlebih. Faktor predisposisi ras seperti Bos taurus (sapi Eropa) lebih sering terkena dibanding Bos sundaicus (sapi Lokal) atau Bos indicus (Sapi berpunuk). Hal ini disebabkan oleh Bos Taurus memiliki kelopak mata yang tidak berpigmentasi dan mata menonjol yang rentan terhadap kerusakan, sedangkan konformasi mata berkerudung pada sapi Bos sundicus dan Bos indicus mampu memberi perlindungan dari sinar matahari dan kerusakan fisik mata. Kejadian pinkeye dapat menyebar ke kawanan lain akibat adanya infestasi lalat. Lalat akan memakan sekresi mata yang terinfeksi dan berpindah dari hewan ke hewan dan menyebarkan bakteri M. Bovis (Walker, 2007).

   

Gambar Gejala Klinis Pink eye Pada Sapi Bali (Dok. Pribadi)

Diagnosa dapat dilakukan berdasarkan gejala klinis yang nampak dan pemeriksaan laboratorium. Gejala klinis yang nampak adalah hyperlakrimasi, konjunctivitis, palpebra susah membuka dan sapi terlihat lebih sering berkedip. Ketika kornea rusak, pembuluh darah akan tumbuh dari ujung mata untuk regenerasi sel yang rusak. Pembuluh darah yang tumbuh ke pusat mata ini memberikan warna pink eye yang khas. Saat pemulihan berlangsung, inflamasi akan berkurang dan mata menjadi kebiru-biruan. Setelah sekitar 4 minggu, satu-satunya bukti infeksi adalah bekas luka putih di pusat kornea (Walker, 2007).

Ada 3 tahap perkembangan kejadian pink eye. Tahap pertama pink eye adalah hewan dengan ‘mata berair’ atau hyperlacrimasi. Dalam dua hari pertama, selaput mata akan berwarna merah dan bengkak (karenanya dinamakan ‘pink eye’) dengan cairan encer yang menyebabkan noda air mata dan mata tertutup. Satu atau kedua mata mungkin akan terinfeksi. Kornea kemudian menjadi keruh atau kebiruan dan bintik keputihan kecil muncul di tengah. Dalam sebagian besar kasus, infeksi kemudian mulai membaik, meninggalkan sedikit atau tidak ada kerusakan permanen. Tahap kedua pada infeksi yang lebih parah, bercak di pusat mata terus membesar. Selama satu sampai dua minggu kornea akan terkikis dan membengkak, dengan sebagian besar mata berubah dari putih menjadi kuning dan kemudian menjadi merah. Perawatan harus diberikan sebelum penyakit menjadi parah. Jika ulserasi parah, kornea dapat pecah dan mata dapat rusak permanen. Tahap ketiga inflamasi akan kembali terjadi sebagai respon positif kesembuhan luka. Pemulihan biasanya selesai 3–5 minggu setelah infeksi awal. Dalam beberapa kasus, jaringan parut menghasilkan bintik putih kebiruan kecil yang tersisa di pusat kornea. Sekitar 2% kasus mata akan menjadi kebiruan dan hewan buta permanen. Terapi kejadian pink eye yang efektif adalah obat tetes mata Penicillin (hambat B-Lactam) q12h dan Injeksi Ocytetracyclin (Hambat sintesis protein) 20 mg/kg, IM q72h serta pemasangan eye patches (Papinch, 2011).