INOVASI PENYEDIAAN PAKAN RUMINANSIA MURAH DAN BERKUALITAS DI MUSIM KEMARAU

Nusa Tenggara Timur dalam kurun waktu setahun mempunyai dua musim, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Musim kemarau memiliki kurun waktu yang lebih lama dari pada musim penghujan yaitu sekitar 7 – 8 bulan. Pada musim penghujan tentunya keberadaan Hijauan Pakan Ternak (HPT) sangat berlimpah karena memang sangat dipengaruhi oleh distribusi air hujan disetiap bulannya, sebaliknya produksi HPT menurun baik kualitas maupun kuantitasnya pada musim kemarau bahkan dengan semakin kurangnya air, produksi HPT terhambat sampai tidak berproduksi sama sekali. Padahal HPT merupakan pakan utama ternak ruminansia, harus disediakan demi kelangsungan hidup ternak, dan untuk kelangsungan berproduksi.

Kondisi fluktuasi ketersediaan HPT yang besar sangat berpengaruh bagi kelanjutan usaha ternak ruminansia sehingga harus ada upaya agar HPT tersedia sepanjang tahun dengan kualitas nutrisi tidak jauh berbeda. Untuk menjaga ketersediaan pakan berkualitas di musim kemarau, Instalasi Lili sebagai pusat pembibitan ternak sapi bali, menerapkan teknologi pengolahan pakan ternak melalui metode pengawetan hijauan pakan ternak dalam bentuk segar dengan memanfaatkan rumput maupun legume yang mengalami surplus produksi saat musim penghujan. Teknologi Pengawetan ini dikenal dengan nama Silase. Silase  adalah  hijauan  pakan  ternak  yang disimpan dalam keadaan segar setelah mengalami proses ensilase. Sebagai bentuk penyimpanan hijauan pakan ternak dalam keadaan segar, kadar air hijauan berkisar antara  60-70%. Pembuatan silase sebaiknya  dilakukan pada saat surplus hijauan dan  diharapkan dapat mengatasi permasalahan kekurangan hijauan segar sepanjang waktu, terutama pada musim kemarau, dengan kualitas nutrisi yang tinggi. Dalam pembuatan silase ini, tidak membutuhkan biaya yang mahal untuk penyediaan silo. Silo sebagai tempat penyimpanan silase dapat menggunakan kantong plastik berukuran besar dan tebal. Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan silase ini juga mudah didapatkan antara lain rumput odot, gamal, gula air/gula pasir, dan EM- 4. Awalnya gamal hanya dijadikan tanaman pagar hidup dan jarang diberikan kepada ternak sapi karena aromanya yang kurang disukai oleh ternak dan adanya kandungan coumarin sebagai anti nutrisi . Padahal gamal mempunyai kandungan Protein Kasar yang tinggi yaitu berkisar 18% – 24%.

Instalasi Lili melihat kurangnya pemanfaatan gamal sebagai pakan ternak sebagai sebuah permasalahan sehingga Instalasi Lili berupaya melakukan pengolahan pakan dalam hal ini menggunakan metode silase untuk mengurangi aroma khas gamal sehingga ternak dapat mengkonsumsi gamal dengan baik.  Dengan pembuatan silase, dapat meningkatkan ketersedian pakan segar dimusim kemarau dan dapat meningkatkan pertambahan bobot badan ternak sapi serta meningkatkan pemanfaatan hijauan pakan ternak saat surplus. (Pakan UPTPT&PPT)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s